Ajang penggemar musik retro jadul tahun 50,60,70 dan pertengahan 80'an. Suka ngobrol masalah musik, pergaulan, tuker-menuker aksesories lawas, dan juga bergaya jadul (gak wajib seh, tapi paling tidak 20%nya). Kami juga anggota2 NFC (Naif Fun Club) Jogja.

Thursday, January 26, 2006

Suka Duka Band Retro di Indonesia

Sempat Dicap Tidak Penuhi Standar Retro Makin hari, scene musik kita makin diramaikan band yang menggunakan attitude jadul alias jaman dulu. Mulai dari segi musik, dandanan, desain album hingga imej dibuat ala jaman baheula. Memang tidak booming seperti aliran ska atau punk melodic, tapi skalanya cukup intens.

Band macam Naif, Saudara Saudari, Mocca, La luna, Sore, White Shoes and The Couples Company (WSTCC), The Monophones, hingga Maymelian adalah segilintir contoh. Belum lagi band lokal yang belum terekspose juga melakukan hal serupa. Tidak ada asap tanpa api, semua yang dilakukan pasti bertujuan.

Berbicara tentang fenomena ini, tidak sah jika tidak mendengar pendapat Naif. Kenapa David cs memilih untuk bergaya retro? "Tidak juga, waktu itu semuanya berjalan apa adanya," ujar David, sang vokalis.

David mengaku semua bermula dari kesukaan mereka terhadap gaya jadul. Terutama musik. Dalam keseharian, mereka memang sangat hobi mendengarkan musik macam The Beatles dan sejenisnya. "Refrensi musik kami memang kesana, dan semuanya berangkat dari hobi, tidak disengaja," akunya.

"Kami berempat memang tidak menentukan harus memakai gaya seperti apa, keluar dengan sendirinya," kata David. Begitu pun saat mencipta lagu. Saat dalam proses kreatif, ide yang keluar dari para personel Naif mengarah ke hal berbau retro.

Tapi David membantah kalau Naif selalu retro oriented. Album mereka contoh nyata. "Album pertama memang retro banget. Tapi lihat Possesif, tampilan kita biasa aja. Album ketiga retro lagi, tapi yang keempat biasa lagi," terang David.

Sari dari WSTCC juga mengatakan hal serupa. Dia dan bandmate-nya tidak mengeset gaya band harus seperti itu. "Kami cuma mengeluarkan apa yang ada di diri kami, itu saja," kata Sari mantap. Malah sebenarnya mereka kurang paham tentang musik jaman dahulu. "Penyanyi semacam Titi Kadi kami pun tidak begitu mengerti," lanjutnya.

Begitu pun dengan kostum. WSTCC punya gaya sendiri. "Bebas tapi sopan, kita tidak harus mengeluarkan sex appeal dengan pakai rok mini atau baju superkecil," ujarnya.

Dalam hal ini, dia juga menyesalkan pandangan penikmat musik yang masih salah kaprah. "Banyak diantara mereka yang masih mengotak-kotakkan aliran musik harus ini harus itu. Musik itu universal, bebas harus seperti apa," kata Sari.

WSTCC sempat mendapat komentar miring dari penonton saat melihat perform mereka. "Kita sempat dicap tidak memenuhi standar retro tahun tertentu," ujar Sari. Karena merasa sudah mantap dengan gaya dandannya, Sari dkk pun bergeming. "Karena kami tidak mematok memakai gaya tahun berapa, ya kita jalan terus," lanjutnya.

Tentang kemunculan band retro yang cukup banyak, WSTCC malah senang. Mereka merasa banyak rekan seperjuangan. "Enak, kerja sama jadi lebih mantap, tidak merasa tersaingi sama sekali," komen Sari.

Well, akankah fenomena ini terus berkembang dan menjadi trendsetter baru? Ataukah akan tenggelam dimakan jaman, numpang lewat seperti jamur di musim hujan? Just wait and see. (sumber : http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=206428)

0 comments:

Contacts Pengurus NFCJOGJA

  • Email NFCJogja : naiffunclub_yogya@yahoo.com